Satun acara perkuliahan al quran dan sains
Oleh Dosen : masykuri qurtubi
Disusun oleh : siti Munawaroh (SIMON)
Semester : 5
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam perjalanan pembenrtukan alam raya ini, munculnya manusia dimuka bumi
secara nisbi masih sangat baru. Oleh sebab itu kita tak boleh heran bahwa sejak
zaman purbakala hingga sekarang manusia dari berbagai peradaban mencoba
menemukan teori terbentuknya bumi sesuai dengan tingkat pengembangn ilmu
pengetahuan dan pemikirannya. Perkembangan citra manusia mengenai alam raya ini
seringkali terikat sangat erat pada pengetahuan apriori yang diturunkan
kepadanya melalui otoritas. Hal ini menyebabkan bahwa pandangan tentang alam
raya sulit diuji kebenarannya melalui pengalaman. Allah SWT menurunkan Al-Quran
kepada manusia 14 abad yang lalu. Beberapa fakta yang baru dapat diungkap
dengan teknologi pada abad ke-21, yang telah difirmankan Allah SWT. didalam
Al-Quran 14 abad yang lalu. Didalam Al-Quran terdapat banyak bukti yang
memberikan informasi dasar mengenai beberapa hal seperti penciptaan alam
semesta. Kenyataan bahwa didalam Al-Quran tersebut telah sesuai dengan penemuan
terbaru ilmu pengetahuan modern adalah hal terpenting, karena kesesuaian ini
menegaskan bahwa Al-Quran adalah Firman Allah SWT.
B.
Rumusan Masalah
Beradasarkan
latar belakang diatas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai
berikut:
1.
Apa saja
teori-teori pembentukan alam semesta?
2.
Proses
Penciptaan Alam Semesta dalam Enam Masa
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penyusunan makalah ini bertujuan
sebagai berikut:
1.
Mengetahui
teori-teori pembentukan alam semesta
2.
Proses
Penciptaan Alam Semesta dalam Enam Masa
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori-Teori Pembentukan Alam
Semesta
1. Teori
Kabut
Teori kabut dikemukakan oleh dua
orang ilmuan yaitu Imanuel Kant (1724-1804) seorang ahli filsafat bangsa Jerman
dan Piere Simon Laplace (1749-1827) ahli astronomi bangsa Perancis. Kant
mengemukakan teorinya tahun 1755, sedangkan Laplace mengemukakan tahun 1796
dengan nama Nebular Hypothesis.
Pada akhir
abad ke-19 teori kabut disanggah oleh beberapa ahli seperti James Clark Maxwell
yang memeberikan kesimpulan bahwa bila bahan pembentuk planet terdistribusi
disekitar matahari membentuk suatu cakram atau suatu piringan, maka gaya yang
disebabkan oleh perbedaan perputaran (kecepatan anguler) akan mencegah
terjadinya pembekuan planet. Pada abad ke-20 percobaan dilakukan untuk membuktikan
terbentuknya cincin-cincin Laplace, menunjukkan bahwa medan magnet dan medan
listrik matahari telah merusak proses pembekuan batu-batuan. Jadi tidak ada
alasan yang kuat untuk menyatakan bahwa cincin gas dapat membeku membentuk
planet.
2. Teori Planetisimal
Teori
planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan Forest R.
Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa tata surya
kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.
3. Teori Pasang
Surut Bintang
Teori
pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold
Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan
hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya
matahari.
4. Teori
Kondensasi
Teori
kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper
(1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya
terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.
5. Teori
Bintang Kembar
Menurut
teori bintang kembar, awalnya ada dua buah bintang yang berdekatan (bintang
kembar), salah satu bintang tersebut meledak dan berkeping-keping. Akibat
pengaruh grafitasi dari bintang kedua, maka kepingan-kepingan itu bergerak mengelilingi
bintang tersebut dan berubah menjadi planet-planet. Sedangkan bintang yang
tidak meledak adalah matahari.
6. Teori
Ledakan Maha Dahsyat (Big Bang)
Pada
awal abad ke-21 muncul teori ledakan maha dahsyat Big Bang, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15
milyar tahun yang lalu.
B.
Proses Penciptaan Alam Semesta dalam
Enam Masa
ءانتم اشد
خلقا ام السماء بناها(۲۷) رفع سمكها فسوها(۲۸) اغطشا ليلها واخرج ضحها(۲۹) واللآرض
بعد ذلك دحها(۳٠) أخرج منها ماءها و مرعاها(۳١) والجبال ارسها(۳۲) متاعا لكم و
لآنعامكم(۳۳)
”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit?
Allah telah membinanya {27} Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya
{28} dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang
benderang {29} Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya {30} Ia memancarkan
daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya {31} Dan
gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh {32} (semua itu) untuk kesenanganmu
dan untuk binatang-binatang ternakmu {33}”
(Q.S. An-Nazi’at: 27-33)
Pembentukan
alam semesta dalam enam masa, sebagaimana disebutkan Al-Qur’an atau kitab
lainnya, sering menimbulkan permasalahan. Sebab, enam masa tersebut ditafsirkan
berbeda-beda, mulai dari enam hari, enam periode, hingga enam tahapan. Oleh
karena itu, pembahasan berikut mencoba menjelaskan maksud enam masa tersebut
dari sudut pandang keilmuan, dengan mengacu pada beberapa ayat Al-Qur’an.
Dari sejumlah
ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan enam masa, Surat An-Nazi’at ayat 27-33 di
atas tampaknya dapat menjelaskan tahapan enam masa secara kronologis. Urutan
masa tersebut sesuai dengan urutan ayatnya, sehingga kira-kira dapat diuraikan
sebagai berikut:
- Masa I (ayat 27): penciptaan langit pertama kali
Pada Masa I,
alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang disebut ”big
bang”, kira-kira 13.7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah
gelombang mikrokosmik di angkasa dan juga dari meteorit.
Awan debu (dukhan)
yang terbentuk dari ledakan tersebut (gambar 1a), terdiri dari hidrogen. Hidrogen
adalah unsur pertama yang terbentuk ketika dukhan berkondensasi sambil
berputar dan memadat. Ketika temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat
celcius, terbentuklah helium dari reaksi inti sebagian atom hidrogen. Sebagian
hidrogen yang lain berubah menjadi energi berupa pancaran sinar infra-red.
Perubahan wujud hidrogen ini mengikuti persamaan E=mc2, besarnya
energi yang dipancarkan sebanding dengan massa atom hidrogen yang berubah.
Selanjutnya,
angin bintang menyembur dari kedua kutub dukhan, menyebar dan
menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, dukhan yang tersisa
berupa piringan, yang kemudian membentuk galaksi (gambar 1b dan c).
Bintang-bintang dan gas terbentuk dan mengisi bagian dalam galaksi,
menghasilkan struktur filamen (lembaran) dan void (rongga). Jadi,
alam semesta yang kita kenal sekarang bagaikan kapas, terdapat bagian yang
kosong dan bagian yang terisi (gambar 1d).
Gambar 1a) awan debu (dukhan) yang terbentuk akibat big bang
Gambar 1b) hembusan angin bintang dari kedua kutubnya
Gambar 1c) galaksi yang terbentuk dari piringan bintang-bintang dan gas-gas
pembentuknya
Gambar 1d) struktur filamen dari alam semesta yang bagaikan kapas
- Masa II (ayat 28): pengembangan dan penyempurnaan
Dalam ayat 28
di atas terdapat kata ”meninggikan bangunan” dan ”menyempurnakan”. Kata
”meninggikan bangunan” dianalogikan dengan alam semesta yang mengembang,
sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi.
Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, dimana kismis tersebut
dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka kismis tersebut
pun akan semakin menjauh (gambar 2).
Gambar 2) model roti kismis untuk menggambarkan
mengembangnya alam semesta.
Mengembangnya
alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan big bang. Jadi, pada dasarnya big
bang bukanlah ledakan dalam ruang, melainkan proses pengembangan alam
semesta. Dengan menggunakan perhitungan efek doppler sederhana, dapat
diperkirakan berapa lama alam ini telah mengembang, yaitu sekitar 13.7 miliar
tahun.
Sedangkan kata
”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk,
melainkan dalam proses yang terus berlangsung. Misalnya kelahiran dan kematian
bintang yang terus terjadi. Alam semesta ini dapat terus mengembang, atau
kemungkinan lainnya akan mengerut.
- Masa III (ayat 29): pembentukan tata surya termasuk Bumi
Gambar 3)
reaksi nuklir yang menjadi sumber energi bintang seperti Matahari
Surat
An-Nazi’ayat 29 menyebutkan bahwa Allah menjadikan malam yang gelap gulita dan
siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan
matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang
dan malam. Pembentukan tata surya diperkirakan seperti pembentukan bintang yang
relatif kecil, kira-kira sebesar orbit Neptunus. Prosesnya sama seperti
pembentukan galaksi seperti di atas, hanya ukurannya lebih kecil.
Seperti halnya
matahari, sumber panas dan semua unsur yang ada di Bumi berasal dari reaksi nuklir
dalam inti besinya (gambar 3). Lain halnya dengan Bulan. Bulan tidak mempunyai
inti besi. Unsur kimianya pun mirip dengan kerak bumi. Berdasarkan fakta-fakta
tersebut, disimpulkan bahwa Bulan adalah bagian Bumi yang terlontar ketika Bumi
masih lunak. Lontaran ini terjadi karena Bumi bertumbukan dengan suatu benda
angkasa yang berukuran sangat besar (sekitar 1/3 ukuran Bumi). Jadi,
unsur-unsur di Bulan berasal dari Bumi, bukan akibat reaksi nuklir pada Bulan
itu sendiri.
- Masa IV (ayat 30): awal mula daratan di Bumi
Penghamparan
yang disebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai pembentukan
superkontinen Pangaea di permukaan Bumi. Masa III hingga Masa IV ini juga
bersesuaian dengan Surat Fushshilat ayat 9 yang artinya, “Katakanlah:
‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua
masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya?’ (Yang bersifat) demikian itu
adalah Rabb semesta alam”.
Gambar 4)
daratan Pangaea yang merupakan asal mula semua daratan di Bumi
- Masa V (ayat 31): pengiriman air ke Bumi melalui komet
Gambar 5)
ilustrasi komet yang membawa unsur hidrogen sebagai pembentuk air di Bumi
Dari ayat 31 di
atas, dapat diartikan bahwa di Bumi belum terdapat air ketika mula-mula
terbentuk. Jadi, ayat ini menunjukan evolusi Bumi dari tidak ada air menjadi
ada air.
Jadi, darimana
datangnya air? Air diperkirakan berasal dari komet yang menumbuk Bumi ketika
atmosfer Bumi masih sangat tipis. Unsur hidrogen yang dibawa komet kemudian
bereaksi dengan unsur-unsur di Bumi dan membentuk uap air. Uap air ini kemudian
turun sebagai hujan yang pertama. Bukti bahwa air berasal dari komet, adalah
rasio Deuterium dan Hidrogen pada air laut, yang sama dengan rasio pada komet.
Deuterium adalah unsur Hidrogen yang massanya lebih berat daripada Hidrogen
pada umumnya.
Karena semua
kehidupan berasal dari air, maka setelah air terbentuk, kehidupan pertama
berupa tumbuhan bersel satu pun mulai muncul di dalam air.
- Masa VI (ayat 32-33): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia
Gambar 6) gunung sebagai pasak Bumi
Dalam ayat 32
di atas, disebutkan ”…gunung-gunung dipancangkan dengan teguh.” Artinya,
gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan, pembentukan air dan
munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk dari interaksi antar
lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai terpecah. Proses detail terbentuknya
gunung dapat dilihat pada artikel sebelumnya yang ditulis oleh Dr.Eng. Ir.
Teuku Abdullah Sanny, M.Sc tentang fungsi gunung sebagai pasak bumi.
Kemudian,
setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah hewan dan akhirnya manusia
sebagaimana disebutkan dalam ayat 33 di atas. Jadi, usia manusia relatif masih
sangat muda dalam skala waktu geologi.
Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka empat masa tersebut dapat
dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang berbunyi, ”Dan
dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia
memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya
dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang
bertanya”.
Demikianlah penafsiran enam masa
penciptaan alam dalam Al-Qur’an, sejak kemunculan alam semesta hingga
terciptanya manusia. Wallahu a’lam bisshowab.
BAB III
KESIMPULAN
1.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan dan rumusan
masalah yang telah dibahas dalam Maklah ini, maka disebutkan beberapa
kesimpulan di bawah ini:
Teori – Teori Pembentukan Alam semesta :
·
Hipotesis Nebula.
·
Hipotesis Planetisimal.
·
Hipotesis Pasang Surut Bintang.
·
Hipotesis
Kondensasi.
·
Hipotesis Bintang Kembar.
·
Hipotesis Big Bang.
Proses Penciptaan Alam Semesta dalam Enam Masa.
·
Masa I (ayat
27): penciptaan langit pertama kali.
·
Masa II (ayat
28): pengembangan dan penyempurnaan.
·
Masa III (ayat
29): pembentukan tata surya termasuk Bumi.
·
Masa IV (ayat
30): awal mula daratan di Bumi.
·
Masa V (ayat
31): pengiriman air ke Bumi melalui komet.
·
Masa VI (ayat
32-33): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia.
penjelasan KEsimpulan pak masykuri :
alam semesta pertamanya berawal dari :
1. kata dukhon (asap) yang didalmnya memiliki hidrogen, helium,dan materi yang lainnya) .
2. ratqon ((satu titik) dari pembetukan asap yang menjadikan ratqon atau satu titik dimna bisa mencapai 200juta kecepatannya membentuk.
3. rafa'aha artinya (meninggikan,mengangkat, dinamis, bergerak dan mengembang) dari satu titik itu menjadi mengembang karena adanya tekanan yang maha dahsyat yang menjadikan satu titik itu menjadikan yang sering kita sebut big bang(dentuman besar).
ada pertanyaan kenapa dalm penciptaan alam semesta ini ada masa-masanya? sepeti 2 masa,4,da 6 masa??? ada yg tahu?
jwbnnya: karena adanya sebuah tahapan proses jadi tidak langsung sempurna karena manusia itu mengerti secara simbolik. Alloh tahu batas kemampuan kita jadi Alloh memberikan pemahaman sesuai dengan kadar kemampuan mahluknya.
2. Saran
Untuk menambah wawasan anda, sebaiknya perbanyak referensi
untuk menambah kekurangan makalah yang kami buat.
DAFTAR PUSTAKA
Yahya, Harun. (2010).
Pustaka Sains Populer Islam: Penciptaan Alam Semesta. Bandung: Sygma
Publishing.
KATA
PENGANTAR
Dengan segala
kerendahan dan keikhlasan hati, puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dan rahim-Nya yang telah dilimpahkan, taufiq dan hidayah-Nya dan atas
segala kemudahan yang diberikan sehingga Makalah
Al-Qur’an dan Sains ini
dapat diselesaikan. Shalawat terbingkai salam semoga abadi terlimpahkan kepada
sang pembawa risalah kebenaran yang semakin teruji kebenarannya baginda
Muhammad SAW, keluarga dan
sahabat-sahabat, serta para pengikutnya. Semoga syafa’atnya selalu menyertai
kehidupan ini. Setitik harapan dari kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat
serta bisa menjadi wacana yang berguna. Kami menyadari keterbatasan yang kami
miliki, Untuk itu kami mengharapkan dan menerima segala kritik
dan saran yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini. Akhirnya hanya kepada Allah
SWT jualah kami memohon Rahmat dan Ridho-Nya.
Jakarta, 19 Oktober 2013
Penyusun
|
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar ..... i
Daftar Isi .... ii
Bab I Pendahuluan .... 1
Bab II Pembahasan .... 2
A. Teori-Teori Pembentukan Alam Semesta............................................. .... 2
B. Proses Penciptaan Alam Semesta dalam Enam Masa........................... .... 3
Bab III Penutup .... 9
Daftar Pustaka
.......................................................................................... 10
MAKALAH AL-QUR’AN
DAN SAINS
PROSES
PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Al-Qur’an dan
Sains oleh
Dosen
Drs. Masykuri Qurtubi, MA

Disusun
Oleh:
Eny
fauziah
Estie
Suharnis
Siti
Munawaroh
FAKULTAS AGAMA ISLAM
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH
|
|
|
|
|
|
|
|









