Kamis, 16 Mei 2013

Bentuk Fiil Amar Hadlir, Isim Fail, Sifat Musabbahat, Isim Maf’ul dan Isim Mubalaghoh


PEMBAHASAN
A.       Bentuk Fiil Amar Hadlir
1.      Asal Mula Fiil Amar Hadlir
Fiil mudhori’ waqi hadlir bila kemasukan lam amar maka menjadi fiil amar hadlir dan apabila permulaan fiil amar itu mati maka didatangkan hamzah washol berharakat kasroh yang berfungsi untuk menyambung permulaan huruf yang mati.
Contoh: اِضْرِبْ  Aslinya adalah  ِلتَضْرِبْ
kemudian lam amar dan ta’ mudloro’ah dibuang dengan alasan agar ringan serta   كسرة الاستعمال  lalu didatangkanlah hamzah washol berharakat kasroh untuk menyambung permulaan huruf yang mati maka jadilah lafadzاِضْرِبْ 
Jika setelah membuang lam amar serta ta’ mudlora’ah permulaan fiil amar tersebut sudah berharakat maka tidak perlu mendatangkan hamzah washol.
Contoh:  صُنْ   yang aslinya adalah ِلَتصُنْ   [1]
Jika ain fi’il berharokat dhomah maka hamzah washol ikut berharokat dhomah, karena mengikuti harokat ain fi’il serta susah mengucapkan dari kasroh ke dhomah. Contoh: اُُْْنصر
2.      Hukum Fiil Amar Hadlir
Hukum fiil amar hadlir adalah mabni menurut alamat jazem fiil mudlore’nya yaitu:
a.      Sukun                                 : apabila akhirnya berupa huruf shohih
                                                  Contoh:اِضْرِبْ   
b.      Membuang huruf illat       : apabila akhirnya berupa huruf illat
                                                  Contohِارْمِ  . اُعْزُ ،اخش    :
c.       Membuang nun                 : apabila termasuk al-af’al al khomsah[2]
                                                  Contoh: ِإضْرِبِى , اِضْرِبُوا , ِاضْرِبَا
B.       Pengertian Isim Fail Dan Wazan-Wazannya
1.      Pengertian Isim Fail
اِسْمُ الْفَاعِلِ هُوَمَا دَلَ عَلَى مَنْ وَ قَعَ مِنْهُ الْفِعْلُ
            Yaitu kalimat yang menunjukkan arti orang yang melakukan pekerjaan
Contoh:            نَا صِرٌ (orang yang menolong)
                                    ضَارَبٌ (orang yang memukul)
Menurut Syeikh Muhammad al-Hudlori isim fail adalah:
مَا دَلَ عَلَى فَاعِلِ الحَدِثِ وجَرَى مَجْرَى الْفِعْلِ فِى اِ فَا دَةِ الْحُدُوثِ
Yaitu kalimat yang menunjukkan arti orang yang melakukan pekerjaan dan kalimat tersebut punya kesamaan dengan kalimat fiil dalam memiliki makna yang tidak melekat.
Maka dari definisi ini bisa mengecualikan isim maf’ul dan sifat musabbahat serta af’al al-tafdil.[3]
2.      Wazan-Wazan Isim Fail
a. Wazan isim fail dari fiil tsulasi mujarrod
Wazan isim fail dari fiil tsulasi mujarrod itu adalah فَاعِلٌ 
Wazan ini dihukumi qiyasi apabila dari fiil yang mengikuti wazanفَعَلَ    yang difathah ‘ain fiilnya baik muta’addi maupun lazim
Contoh:ضَرَبَ فهوضارب          (orang yang memukul)
                           ذَهَبَ فهو ذاهب (orang yang pergi)
Atau dari fiil yang ikut wazan   فَعِلَ   (yang dikasroh ‘ain fiilnya) yang muta’adi[4]
Contoh:رَكِبَ فهو رَاكِبٌ     (orang yang naik kendaraan)
                        عَلِمَ فهوعَاِلمٌ (orang yang alim)

Jika dari fiil yang ikut wazan فَعِلَ (yang dikasroh ‘ain fiilnya) yang lazim dan fiil yang ikut wazan فَعُلَ  (yang didhommah ‘ain fiilnya) kemudian isim failnya di ikutkan wazan   فَاعِلٌ   maka dihukumi sama’i
Contoh:                 سَلِمَ فهو سَاِلمٌ (orang yang selamat)
                   حَمُضَ فهو حَامِضٌ (sesuatu yang masam)
Adapun bentuk qiyasi isim fail dari fiil yang ikut wazan فَعِلَ    (dikasroh ‘‘ain fiilnya) yang lazim adalah:
a.      فَعِلٌ Dari fiil fiil yang menunjukkan arti sesuatu yang baru datang (bukan watak) yang tidak melekat[5]
Contoh:                فَرِحَ فهو فَرِحٌ (orang yang gembira)
                      بَطِرَ فهو بَطِرٌ (yang tidak mensyukuri nikmat)
b.      اَفْعَلُ Dari fiil fiil yang menunjukkan arti warna atau kondisi yang tampak pada fisik
Contoh:    حَمِرَ فهواَحْمَرُ (yang merah)
                        جَهِرَ فهواَجْهَرُ (yang tidak bias melihat ketika kena sinar matahari)
                   عَوِرَ فهواَعْوَرٌ (yang buta sebelah matanya)         
c.       فَعْلَانُ dari fiil fiil yang menunjukkkan arti penuh atau panas dalam tubuh[6]
Contoh:                  َروَىَ فهورَيَّانُ   (yang segar)
                                    صَدِىَ فهوصِدْيَانُ (yang haus)
                                   عَطِشَ فهوعَطْشَانُ (yang haus karena panas dalam)
Jika fiil tsulasi mengikuti wazan  فَعُلَ   (di dlomah ‘ain fiilnya) maka mayoritas isim failnya ikut wazan:
1.      فَعْلٌ    contoh:  ضَحُمَ فهو ضَحْمٌ   (yang gemuk)
شَهُمَ فهو شَهْمٌ   (yang cerdas hatinya)     
2.      فَعِيْلٌ    contoh: جََمُلَ فهو جَمِيْلٌ   (yang bagus)
شَرُفَ فهو شَرِيْفٌ (yang mulia)         
dan dihukumi     قليل      jika diikutkan wazan   اَفْعَلُ   dan   فَعَلٌ     
Contoh:              خَضُبَ فهو اَخْضَبٌ (yang memakai pacar)
                     حَسُنَ فهوحَسَنٌ       (yang bagus)     

b. Wazan isim fail fari fiil selain tsulasi mujarrod
Sedangkan bentuk isim fail dari fiil selain tsulasi mujarrod adalah sesuai dengan bentuk fiil mudhore’nya dengan syarat mendatangkan huruf miim yang berharakat dlommah pada tempatnya huruf mudhoro’ah dan membaca kasroh huruf sebelumnya akhir secara mutlaq.
Contoh:                يَنْطَلِقُ فهو مُنْطَلِقٌ       
                              يَتَعَلِّمُ فهو مُتَعَلِّمُ  
C.       Pengertian Sifat Musabbahat
هُوَمَاصِيْعَ مِنْ فِعْلِ لاَ زِمٍ لِقَصْدِ نِسْبَةِ الصِّفَةِ اِلَى الْمَوْصُوْفِ مِنْ غَيْرِ اِعْتِبَارِالزَّمَانِ
الْحَالِ وَاْلاِسْتِقْبَالِ وَالْمَاضِى
Yaitu kalimat isim yang dicetak (dari masdarnya) fiil lazim dengan tujuan untuk menisbatkan sifat pada mausuf (perkara yang disifati) tanpa memandang zaman hal istiqbal dan madli.
      Contoh:  حسن (orang yang tampan)
Lafadz ini tercetak dari masdarnya fi’il lazim yaitu lafadz حسنا , tujuannya untuk menisbatkan sifat tampan kepada seseorang tanpa melihat zaman maknanya lafadz ini yaitu tetapnya sifat tampan pada seseorang pada semua waktu.[7]
Semua isim sifat yang tidak mengikuti wazan فَاعِلٌ  dinamakan sifat musabbahat, jika dikehendaki ma’na الثبوت (melekat) dan الدوام (langgeng)
Sedang penamaan sifat musabbahat dengan kata isim fail itu dikategorikan majaz. Jika isim sifat musabbahat itu dikehendai makna hudust (makna yang tidak selalu melekat) maka menjadi isim fail.
Sifat musabbahat yaitu suatu sifat yang melekat pada orang atau sesuatu yang disifati. Maka sifat musabbahat ini harus dicetak dari fiil lazim sedangkan isim fail dapat dicetak dari fiil lazim dan fiil mutaaddi.
-          Menurut al-asqoti dkk.: jika menghendaki sifat musabbahat yang menjelaskan arti hudust  (ma’na yang tidak selalu melekat) maka pindahlah ke wazan فَاعِلٌ
-          Menurut as-Syatibi dkk didalam kitab at-Tasyrih menjelaskan: jika menghendaki maka hudust sesuatu yang bagus maka katakanlah   حَا سِنٌ  bukan حَسَنٌ
apabila isim fail ikut wazan  فَاعِلٌ  dimudhofkan ke isim yang dirafa’kannya yang otomatis menunjukkan makna melekat maka isim tersebut menjadi sifat musabbahat
Contoh:                  طَا هِرٌ القَلْبِ    yang suci hatinya
                        شَا حِطُ الدَارِ    yang sangat jauh rumahnya
Keserupaan Isim Sifat Musabbahat Dengan Isim Fail[8]
Isim sifat musabbahat artinya secara bahasa yaitu isim sifat yang memiliki keserupaan dengan isim fail . keserupaannya adalah:
  1. Di dalam makna
Sama-sama menunjukkan pada suatu makna yang menetap pada suatu dzat
  1. Di dalam lafadz
Isim sifat musabbahat ketika ditasniyahkan dimuanaskan dan dijamakkan itu serupa dengan isim fail
seperti:
حَسَنٌ حَسَنَةٌ حَسَنَانِ حَسَنُوْنَ حَسَنَاتٍ
hal ini sama dengan isim fail
      ضَارِبٌ ضَارِبَةٌ ضَارِبَانِ ضَارِبُوْنَ ضَاِربَاتٌ
Perbedaan Isim Sifat Musabbahat Dan Isim Fail[9]
1.      Isim sifat musabbahat menujukkan sifat yang menetap pada seseorang dan selalu melekat contoh  حَسَنٌ  (orang yang tampan) sedangkan isim fail itu menunjukkan sifat yang menetap tetapi tidak selalu melekat contoh  قَائِمٌ    (orang yang berdiri)
2.      Isim sifat musabbahat pada qiyasnya tercetak dari fiil lazim dan tidak bisa dicetak dari fiil mutta’adi
Sedang isim fail secara qiyasi bisa dicetak dari fiil lazim maupun fiil muta’adi
3.      Isim sifat musabbahat wazannya tidak mengikuti wazannya fiil mudhori’  (dalam segi mati dan hidupnya huruf) sedang isim fail itu mengikuti wazannya fiil mudhori’ seperti     قَائِمٌ   dalam segi mati dan hidupnya huruf itu sama dengan يَقُوْمُ
4.      Isim sifat musabbahat boleh diidhofkan pada failnya bahkan hal ini yang terbaik
Seperti    حَسَنٌ الخُلُقُ (yang baik akhlaqnya) boleh diucapkan  حَسَنُ الخُلُقِ
Sedang isim fail tidak boleh di idhofkan pada failnya seperti   قَائِمٌ ابُوْهُ  (yang berdiri ayahnya) tidak boleh diucapkan  قَائِمُ أَبِيْهِ
Isim sifat musabbahat dari fiil selain tsulasi mujarot itu sama dengan wazannya isim fail
Contoh:      مُعْتَدِلَ القَامَةِ     : yang bodinya sedang (proporsional)
                  مُشْتَدُّالعَزِيْمَةِ    : yang kuat tujuannya
D.      Pengertian Isim Maf’ul Dan Bentuk-Bentuknya
            اَلاِسْمُ الْمَفْعُوْلِ هُوَمَا دَلَ عَلَى مَا وَقَعَ عَلَيْهِ الْفِعْلِ
Yaitu kalimat yang menujukkan arti orang / sesuatu yang terkena pekerjaan[10]
Contoh:      مَكْسُورٌ          : perkara yang dipecahkan
              مَضْرُوبٌ        : orang yang dipukul
Isim maf’ul dari fiil tsulasi mujurrod wazannya ada 2 yaitu:
1.   مفعول  contoh مضروب (yang dipukul) wazan ini dihukumi qiyasi
2.      فعيل  contoh   جَرِيْحٌ(yang dilukai) wazan ini dihukumi sama’i
Perbedaan wazan      فَعِيْلٌ digunakan untuk isim maf’ul dan isim fail adalah:
-          Bila digunakan untuk isim maf’ul maka lafadznya sama antara laki-laki dan perempuan
Contoh:            رجلٌ قَتِيْلٌ       : laki-laki yang dilukai
                   إمرأةٌ قَتِيْلٌ       : Perempuan yang dilukai
-          Bila digunakan untuk isim fail maka lafadznya berbeda antara laki-laki dan perempuan
Contoh:            رَجُلٌ كَرِيْمٌ      : laki-laki yang mulia
                   مَرْأَةٌ كَرِيْمَةٌ     : perempuan yang mulia
E.       Bentuk Isim Mubalaghoh
Isim fail jika ingin dikehendaki makna mubalaghoh dengan kata lain makna taksir (memperbanyak) maka mayoritas dipindah ke bentuk فَعُوْلٌ , مِفْعَالٌ , فَعَّالٌ 
Contoh:
وَهَّابٌ                         Yang banyak memberi
مِسْقَامٌ                         Yang sering sakit
شَكُوْرٌ                                  Yang banyak berterima kasih
Dan dihukumi sedikit jika dipindah ke bentuk فَعِلٌ     dan     فَعِيْلٌ
Contoh:
عَليِمٌ              Yang banyak ilmunya
حَذِرٌ                                     Yang banyak berhati-hati
Bentuk isim mubalaghoh hanya bisa terbuat dari isim fail dari fiil tsulasi mujarrod
SIMPULAN
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan sebagaimana berikut:
1.      Hukum fiil amar hadlir adalah mabni dan dimabnikan pada alamat jazem fiil mudhore’nya
2.      Isim fail adalah kalimat yang menunjukkan arti orang yang melakukan pekerjaan
3.      Isim sifat musabbahat adalah kalimat yang menunjukkan makna yang melekat pada suatu dzat dan hanya  tercetak dari fiil lazim
4.      Isim maf’ul adalah kalimat yang menunjukkan arti orang atau sesuatu yang terkena pekerjaan
5.      Isim mubalaghoh adalah isim fail yang dipindah ke wazan tertentu yang menunjukkan makna mubalaghoh atau taksir (memperbanyak)
SUMBER
A. Maisur Sindi. Nailu al-Amal. Kediri: tp., 1973.
Abdul Kholiq. Tarjamah Nadlom Maqsud. Nganjuk: tp., tt.
Muhammad al-Hudlori.  al-Hudlori II, Hasyiah Ibn al-Aqil, Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah. Beirut: Dar al-Fikr, tt.
Muhammad bin Ahmad ash-Shoban. as-Shoban II Hasyiyah al-Asmuni. Beirut: Dar al-Fikr, tt.
A. bin Muhammad bin Hamdun bin al-Haj. Ibn Hamdun II. Surabaya: al-Hidayah, tt.
Musthofa al-Ghayalaini. Jami’ ad-Durusy. Beirut: Dar al-Fikr, tt.
M.Sholihuddin Sofwan, Mabadi’ Ash-Sharfiyah. Jombang: Dar al-Hikmah, tt.
DISUSUN OLEH:
Sarwono, dkk. PBA Madin INSURI Ponorogo
<<= Bab sebelumnya                                                  Bab selanjutnya =>>
Artikel Terkait

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates